Vaping vs Merokok: Mana yang Lebih Berbahaya?

Vaping vs Merokok: Mana yang Lebih Berbahaya?

Baik merokok maupun vaping memiliki efek samping dan risiko yang patut diperhatikan. Kendati para ilmuwan belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjang dari penggunaan rokok elektronik atau yang sering disebut sebagai rokok elektrik, namun bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa vaping tidak bisa dianggap sebagai alternatif yang aman untuk merokok.

Vaping melibatkan proses pernapasan dalam aerosol yang mengandung berbagai bahan kimia termasuk nikotin dan penyedap rasa, yang dihisap melalui perangkat rokok elektrik atau jenis lainnya. Sayangnya, kebiasaan vaping ini semakin populer di kalangan remaja.

Baca Juga: 9 Bahan Alami yang Dapat Mengusir Kecoa dengan Efektif

Asosiasi Jantung Amerika (AHA) yang merupakan sumber terpercaya menyatakan bahwa meskipun banyak orang berpikir bahwa vaping lebih aman dibandingkan merokok, namun kenyataannya belum tentu demikian. Bahkan, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan vaping ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan.

Maka dalam artikel ini, kami akan membahas perbandingan risiko antara vaping dengan merokok serta mempertimbangkan efek jangka panjang dan risiko dari kedua kebiasaan tersebut.

Mana yang kurang berbahaya?

Baik merokok maupun vaping memiliki dampak negatif bagi kesehatan manusia. Meskipun merokok dianggap lebih berbahaya daripada vaping berdasarkan bukti yang ada, tetap saja vaping tidak sepenuhnya aman. Asap tangan kedua dari vaping mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia beracun, termasuk yang menyebabkan kanker. Bahkan cairan vaping yang lebih sedikit kontaminannya daripada rokok tetap tidak sepenuhnya aman.

Baca Juga: Cerita Pendek (Cerpen): Pengertian, Ciri-Ciri, Unsur dan Jenisnya

Mereka yang memilih vaping juga berisiko membahayakan kesehatannya karena dapat mengandung nikotin yang memperlambat perkembangan otak pada janin, anak-anak, dan remaja. Cairan yang dihisap juga berbahaya bagi orang dewasa dan anak-anak karena kandungan bahan kimianya yang merugikan, seperti diacetyl, bahan kimia penyebab kanker, logam berat, dan senyawa organik volatil (VOC). Selain itu, vaping dapat memperkuat kebiasaan merokok karena semakin populer.

Baca Juga: Menguak Prestasi: Indonesia Bersaing di Jajaran 5 Negara Produsen Ikan Terbesar di Dunia

Sementara itu, penelitian bertahun-tahun telah membuktikan bahwa merokok sangat merusak kesehatan manusia. Merokok dapat menyebabkan kerusakan pada seluruh organ tubuh, termasuk meningkatkan risiko kematian dan mengembangkan kondisi kesehatan yang serius, seperti penyakit jantung dan stroke. Bahkan lebih dari 480.000 kematian per tahun di Amerika Serikat disebabkan oleh merokok, termasuk 90% dari semua kematian akibat kanker paru-paru dan sekitar 80% kematian akibat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Efek jangka panjang dari merokok

Merokok adalah kebiasaan yang dapat menimbulkan banyak efek samping jangka panjang pada kesehatan tubuh. Menurut laporan dari CDC, lembaga yang sangat terpercaya dalam hal kesehatan, kebiasaan merokok dapat mengakibatkan penurunan jumlah sperma, meningkatkan risiko kehilangan kehamilan atau cacat bawaan, meningkatkan risiko katarak, mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh, meningkatkan peradangan umum, serta dapat menyebabkan kanker di hampir seluruh bagian tubuh seperti paru-paru, ginjal, dan perut. Selain itu, merokok juga dapat memicu serangan asma, menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah dan arteri, serta meningkatkan risiko terjadinya stroke. Oleh karena itu, sebaiknya kita mulai mempertimbangkan untuk menghindari kebiasaan merokok demi menjaga kesehatan tubuh yang optimal.

Efek jangka panjang dari vaping

Secara umum, meskipun vaping dianggap lebih aman daripada merokok tembakau, sebuah penelitian terbaru pada tahun 2019 menemukan bahwa pengguna rokok elektrik berisiko lebih tinggi terkena penyakit pernapasan dibandingkan dengan orang yang tidak pernah merokok. Selain itu, vaping juga memiliki dampak buruk lainnya seperti merusak paru-paru, melepaskan radikal bebas yang mempromosikan perkembangan kanker, melemahkan sistem kekebalan tubuh, serta menunda perkembangan otak pada janin, anak-anak, dan remaja. Terlebih lagi, beberapa orang juga melaporkan mengalami luka bakar karena baterai yang rusak dan menyebabkan ledakan saat mengisi ulang rokok elektrik. Oleh karena itu, sebaiknya lebih berhati-hati dalam menggunakan rokok elektrik sebagai alternatif merokok tembakau.

Ringkasan

Vaping dan merokok memiliki dampak yang sama-sama berbahaya bagi kesehatan, antara lain merusak paru-paru dan meningkatkan risiko terkena kanker. Namun, terdapat perbedaan signifikan antara kandungan bahan kimia berbahaya pada produk vape yang jauh lebih sedikit dibanding rokok, sehingga menjadi alternatif yang efektif bagi para perokok yang ingin berhenti. Meski begitu, penggunaan produk vape tetap berpotensi meningkatkan ketergantungan nikotin seseorang. Terlepas dari fakta bahwa efek jangka panjang dari vaping masih kurang dipahami oleh para peneliti, namun penting untuk mempertimbangkan konsumsi produk vape dengan bijak.

Baca Juga: Sinopsis Film Terbaru Hello Ghost, Dibintangi oleh Enzy Storia yang Menawan


Baca Juga: Waktu Berolahraga yang Sesuai Dengan Kebutuhan Badan

Bagikan ke


Pilihan Untuk Anda